Bukan aku tuhannya

Hidup adalah perjalanan..

Tuhan hanya satu.

Namun sering sekali manusia menggolongkan Tuhannya, tuhan maha baik atau mungkin tuhan seperti neraka baginya.

Perkara cobaan, seperti perjalanan yang penuh lubang tanpa dasar.

Banyak sekali putus asa, kemarahan dimatanya (pasien) yang sering kulihat, Baginya alternatif adalah kebodohan seperti ujungnya tetaplah kematian, Upaya yang sering ku arahkan seperti takdir Tuhan yang sama terus mengecamnya.

Aku menyapanya dengan energi baik yang kupunya meskipun yang ada hanya sisa-sisa.

Mereka senyum tipis, namun raut wajahnya tak pernah bohong bahwa ia seperti mengatakan "sialan perawat ini yang membuatku mau kehilangan bagian bagian tubuh ini, sialan perawat ini yang membuatku mau menjalani cuci darah dan banyak sekali".

Bahwa aku seperti mendengar hasil keputusasaan mereka.

Lalu aku berharap, meyakinkan lagi dan lagi bahwa hidup terus berkelok tanpa menyadarkan bahwa seharusnya ada titik ujungnya.

Bahkan yang paling tragis ialah upaya yang sudah semaksimal mungkin ternyata sia-sia.

Pacuan jantung yang tidak lagi membantunya, pasien yang menyerah berada tepat di hadapan ku dan dokter, keluarganya yang menangis histeris, pemandangan ini sering sekali meledak.

Yang kenyataannya telah menemui titik henti yang tidak pernah ku ulik.

Meskipun semua terpampang jelas hitam diatas putih. Namun aku tetap merasa bersalah telah berada diantara takdir Tuhan dan mereka.

Kembali menghibur diri bahwa aku juga masih manusia, aku juga merasakan kekecewaannya terkumpul.

Sekali lagi Tuhan.

Dan tuhan benar aku masih manusia, hasil buruk baiknya ini tentunya pasti ada.

Namun apakah aku selalu siap? Tentu tidak.. aku tidak pernah siap dengan hasil yang pada akhirnya akan menyerang pikiran ku sendiri.

Komentar

  1. Sebuah realitas, entah mau berdamai atau tidak, tetapi begitulah adanya... 👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer