Bait akhir
Saat tersenyum bulan sabit persis seperti matanya, teduh, dan indah.
Saat tersenyum, lengkungan garis bibir bawahnya menunjukkan betapa manis dirinya.
Saat tersenyum, gerakkan tangannya seolah menunjukan bahasa tulusnya.
Saat tersenyum ia tak pernah sadar, bahwa akulah yg tiap hari menunggu keindahan itu segera kurekam dalam ingatan.
Namun punggungnya menunjukan kekosongan, yang entah dari sisi mana aku menilainya.
Namun pikirannya menunjukan kegaduhan, yang entah dari perasaan mana aku menyimpulkannya.
Namun tiap langkahnya menunjukkan kemuakan, entah dari mana aku merasakannya.
Melihatnya bahagia, sama seperti obat yang kutelan.
Melihatnya sepi, sama seperti racun yang kutelan.
Apa karena Kita sama?
Atau karena Aku telah menyukaiMu?




Komentar
Posting Komentar